







Gambar di atas merupakan gambar akhir dari skematis perancangan ruang luar dan elemen ruang luarnya. Disini, elemen ruang luar itu mencakup pola perkerasan, pola penghijauan, pola sirkulasi tangga, pola pembentukan ruang-ruang seperti fungsi parkir sepeda, titik penempatan signage dan lampu taman, serta penentuan elemen estetika lain yang bisa berfungsi untuk menyembunyikan area servis dari pandangan penghuni.
Pada gambar diatas, bisa terlihat bahwa banyak ruang-ruang luar yang bisa didefinisikan lagi untuk selanjutnya di eksplorasi. Agar tidak terlalu banyak memakan lahan hanya dengan bangunan, maka yang sebelumnya ada empat massa, sekarang dibuat hanya dua massa. Dimana masing-masing massa terdiri dari dua lantai untuk masing-masing keluarga satu lantai. Pembentukan kegiatan sebuah komunitas pun bisa terbentuk disini dengan koordinasi pengawasan dan perawatan komplek hunian. bahkan pada rancangan ini bisa memungkinkan dibentuknya massa terpisah dengan tujuan sebagai ruang bersama yang bisa dimanfaatkan oleh kesemua penghuni ataupun tamu.
Hm, penasaran dengan istilah-istilah yang digunakan disini? Istilah dan konsep yang ada disini merupakan ide brilian dari Bu Dhiah yang selalu Wiwied kagumi kreativitas dan inovasinya... Simak terus untuk Sayembara Rujak ini, dan Wiwied akan terus berikan perkembangan terbaru Sayembara Rujak. Untuk konsep dan istilah di atas akan dipaparkan pada artikel berikutnya yang menyesuaikan. Untuk saat ini, perancang lebih banyak melakukan eksplorasi dengan jadwal kerja semakin padat.Sayembara ini menuntut perancang untuk bisa berkreativitas menyediakan lahan hunian yang nyaman untuk empat keluarga dalam satu lahan seluas + 265 m². Lahan ini hendaknya bisa mengakomodasi macam-macam kegiatan keempat keluarga tersebut di dalam rumah dan lahan tersebut.
Perancang adalah Wiwied dan “Bu” Dhiah yang bekerja sebagai tim perancang untuk menjawab tantangan sayembara ini.
Gambar di atas merupakan ilustrasi usulan Wiwied untuk membentuk pengembangan dari konsep blokplan sebelunya. Ilustrasi ini cukup untuk menggambarkan letak area parkir bersama, jalan masuk lahan, letak dan posisi bangunan yang menempel di tanah maupun yang menggantung (struktur rumah panggung), akses masuk rumah dari pekarangan, serta lahan hijau untuk resapan air pada lahan.

Gambar di atas merupakan gambar aksonometrik dari satu unit (tipikal) dari hunian satu keluarga. Jika disebut tipikal dikarenakan tipe hunian ini akan dipakai berulang pada tiga unit rumah keluarga lainnya. Pada gambar ini, Wiwied memberikan ilustrasi untuk rencana dinding dan bukaan ruangan, ketinggian masing-masing ruangan, serta pemisahan antar ruang dan akses / jalur sirkulasi penghuninya.


Dalam mengolah bentuk massa bangunan, Wiwied mencoba memperoleh konsep vertical-layer dengan membuat seolah-olah bangunan terlihat seperti barisan buku yang berjejer berdiri diatas meja. Hal ini diperlukan untuk menciptakan bentuk bangunan yang artistik dan unik. Tentunya hal ini, tidak boleh mengabaikan kelestarian lingkungan hunian (dengan membuat kolong bangunan panggung) dan iklim (dengan atap miring).
[ hak cipta ilustrasi : Yanuarti Tri Mardyah ]
Gambar di atas merupakan rencana bentuk yang diusulkan oleh Bu Dhiah sebagai bahan diskusi. Gambar dengan varian ini diperlukan untuk mengetahui tingkat mana yang paling solutif namun juga artistik.
Dalam bekerja tim, maka dilakukan diskusi untuk merembuk semua perancangan yang sudah diusulkan. Pada tanggal 27 Oktober 2009, diskusi dilakukan dengan akses chatting internet. Diskusi ini penting untuk menentukan solusi usulan mana yang paling cermat untuk direalisasikan pada perancangan berikutnya.
Dimulai dengan mengkaji lahan perancangan yang memiliki batas – batas lahan yaitu :
- Utara : Dinding hunian lain
- Selatan : Jalan akses penduduk sekitar (Jl. Rembang)
- Barat : Dinding Hunian Lain di sebelahnya
- Timur : Dinding hunian lain, dan Jalan akses penduduk yang lebih kecil dari Jl. Rembang
Fungsi bangunan dan jalan disekitarnya kemudian dijadian bahan pertimbangan untuk menentukan arah hadap dan pola peruntukan lahan perancangan tersebut. Disinilah perancang membuat Zoning atau pemintakatan untuk area-area di dalam lahan perancangan.

[gambar : zoning perancangan di atas lahan]
Zoning terbagi menjadi 3 area :
Penentuan zona-zona di atas adalah tahap penting dalam memulai perancangan blok massa / bangunan. Karena dengan mendefinisikan gambar-gambar zoning, kami dapat menentukan fungsi arsitektur apa yang hendak ditempatkan di atas lahan perancangan serta dimana persisnya kami menempatkan setiap fungsi tersebut.

[gambar : Fungsi arsitektur yang ditempatkan pada tiap area zoning]
Dari gambar tersebut, perancang juga mempertimbangkan arah bukaan cahaya yang sebaiknya menghadap utara dan selatan, sehingga tidak secara langsung menghadap matahari terbit / terbenam. Dengan zoning ini pula dapat ditentukan alur kegiatan di atas lahan perancangan. Dari sejak penghuni masuk ke dalam lahan, lalu memanfaatkan ruang bersama seperti parkir, kemudian menuju teras rumah mereka, dilanjutkan dengan kegiatan di dalam rumah, yang ditunjang dengan area servis, hingga akhirnya mereka pergi keluar rumah menuju jalan penduduk di depan gerbang.
Ya, proses Zoning yang baru dibahas di atas sangat memudahkan perancang menuju proses selanjutnya yaitu : pembentukan gubahan bentuk massa/bangunan itu sendiri dan konsep lansekap / ruang luar. Proses ini akan di lanjutkan pada posting berikutnya.


Kali ini, Wiwied [author] ikutan sayembara yang diadain sama komunitas Rujak... Konon katanya, komunitas Rujak ini adalah komunitas yang mengaku "diri mereka" sebagai komunitas yang perduli akan ibukota Jakarta yang makin sumpek ini... Moto mereka : "for a better jakarta, you are invited". Motto yang amat mengundang untuk kita yang mau gabung buat perduli dengan kota kita, Jakarta.Konsultasi Jasa Arsitek Gratis melalui e-Mail dan Blog